

"Saat itu musim hujan, gelombang besar, stok pangan habis sama sekali. Uang ada, tapi makanan tidak ada," kata Karta, ditemui di kediamannya yang juga sekaligus menjadi tempatnya berjualan di Desa Temajuk, Rabu (2/3) malam.
Rapat desa memutuskan agar warga yang waktu itu mempunyai sepeda motor untuk mengambil bahan kebutuhan pokok di Mutusan, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari desa paling utara di Kalbar itu.
Mutusan masa itu merupakan kampung kecil yang terletak di tepi Sungai Mutusan, berada antara Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing dan Sungai Belacan. Kini kampung tersebut tidak ada lagi penghuninya karena kerusuhan sosial yang terjadi di Kalbar beberapa waktu lalu.
Sekarang hanya digunakan sebagai tempat pertemuan nelayan tradisional di Kecamatan Paloh untuk bertransaksi.
Karta melanjutkan, kapal yang biasa mengangkut kebutuhan pokok ke Temajuk, tidak bisa merapat ke desa yang berada di berbatasan laut dengan Laut Natuna itu. Laut Natuna tengah bergolak di akhir tahun.
"Selama tiga hari, warga nekat bergantian membawa kebutuhan pokok menggunakan sepeda motor. Tidak perduli gelombang laut tinggi dan hujan deras, yang penting sampai," kata Karta.
Setiap warga mendapat jatah dua kilogram sampai lima kilogram beras. Beras yang berhasil diangkut harus dihemat karena mereka menjaga stok sampai cuaca kembali bersahabat.
Meski kejadian tersebut tidak pernah terjadi lagi, namun setiap akhir tahun hingga awal tahun, ribuan warga Temajuk tetap was-was karena cuaca buruk yang kerap mengganggu distribusi barang dan jasa.
Beberapa tahun lalu, Temajuk sering disinggahi pedagang dan kapal dari luar karena terkenal dengan hasil alam dan hutan. Namun seiring perubahan, lambat laut bisnis di sektor perkayuan semakin sulit. Kapal pedagang pun jarang yang menyinggahi Temajuk.
Setahun terakhir, secara rutin ada "cangkau" yang rajin mendatangi Temajuk membawa kebutuhan pokok. Cangkau merupakan sebutan bagi warga yang berprofesi mengangkut barang, terkadang menggunakan sepeda motor. Mereka biasanya membawa hasil alam seperti karet untuk dibawa dari desa ke pasar di ibu kota kecamatan.
"Ada lima sampai delapan cangkau yang rutin datang menggunakan sepeda motor," kata Karta.
Sistem pembayaran juga cukup unik diantaranya berdasarkan nilai barang yang dibawa atau upah angkut. Misalnya total nilai barang yang dibawa Rp1 juta, maka ongkos angkutnya 20 persen. Sedangkan sistem upah angkut, untuk satu kardus barang yang dihargai dengan perbandingan satu banding tujuh.
"Kalau upah angkut di Paloh untuk satu kardus mi instan seribu rupiah, di Temajuk nilainya jadi Rp7 ribu. Kadang untuk barang yang berat, upah angkutnya dua banding 14," kata Karta.
Belanja di Melanau pun bukan hal yang bijak. Harga kebutuhan pokok umumnya lebih mahal dibanding Indonesia. Ia mencontohkan, beras kualitas kelas III di Malaysia, harganya Rp85 ribu untuk ukuran 10 kilogram. Sedangkan beras Indonesia, ukuran 20 kilogram, harganya Rp135 ribu.
Perjalanan
Menilik kesepakatan antara warga dengan cangkau tersebut, sebenarnya wajar saja karena beratnya perjuangan menuju desa yang berbatasan darat dengan Melanau, Sarawak, Malaysia Timur itu.
Sejak terbentuk tahun 1982, belum ada jalan darat dari Liku, Ibu Kota Kecamatan Paloh menuju Temajuk. Jaraknya sekitar 50 kilometer.
Bagi yang baru pertama kali mencoba perjalanan darat ke Temajuk dari Liku, mungkin akan kebingungan karena penunjuk jalan bakal menghitung kapan pasang dan surut Laut Natuna. Kalau surutnya tengah malam, maka saat itu merupakan waktu terbaik untuk berangkat.
Rombongan "Jurnalis Trip" Kalbar yang difasilitasi WWF-Indonesia saat berkunjung ke Kecamatan Paloh, 1-4 Maret, mengalami hal itu.
Perjalanan dimulai dari Desa Sebubus, Rabu (2/4) yang berbatasan dengan Desa Temajuk. Kedua desa dibatasi Sungai Belacan yang bermuara di Laut Natuna. Ada sepuluh sepeda motor, masing-masing pengendara membonceng rekannya. Delapan diantaranya merupakan wartawan.
Perjalanan lumayan lancar menuju Sungai Belacan. Ada kamp milik WWF - Indonesia untuk memantau penyu yang rutin bertelur di pantai. Jalan berpasir sekitar tiga kilometer dari rabat beton terakhir yang ada di rute tersebut.
Setelah dari kamp tersebut, rombongan harus menyusuri pantai sepanjang 24 kilometer hingga tiba di pusat Desa Temajuk. Sebelah kiri ada Laut Natuna dengan gelombangnya yang dahsyat, sebelah kanan kawasan hutan Pantai Paloh. Terlihat batas tertinggi gelombang menghantam bibir pantai. Ada delapan sungai yang muaranya di Pantai Paloh, antara Sungai Belacan ke Desa Temajok.
Ketika surut, air laut bisa menyusut hingga sepuluh meter dan menyisakan pasir yang padat sehingga mudah dilalui kendaraan. "Makanya, saat surut adalah waktu terbaik untuk menuju atau berangkat dari Desa Temajuk menyusuri pantai," kata Dwi Suprapti, Koordinator Penyu Paloh WWF - Indonesia yang dua tahun terakhir rutin memantau perkembangan penyu di Pantai Paloh.
Meski surut, pengendara harus memperhitungkan curah hujan di pehuluan sungai karena tidak dapat dilewati sepeda motor. Bahkan terkadang sepeda motor harus dipikul bersama-sama melewati sungai.
Tantangan lainnya, hanya ada waktu empat jam untuk menyusuri pantai dengan "nyaman" dari posisi surut karena air laut akan pasang kembali. Kalau terlambat, terpaksa menunggu surut atau menginap di perjalanan.
Mengendarai sepeda motor di pantai berpasir, butuh keahlian dan pengalaman tersendiri. Pengendara harus tahu kondisi pasir, padat atau gembur. "Kalau pasirnya butirannya besar, artinya gembur, sepeda motor dapat terjebak. Dan sebaliknya, kalau butirannya kecil, biasanya padat," kata Hendro, staf Penyu Paloh WWF - Indonesia.
Pengendara harus memegang erat-erat stang sepeda motor, ban jangan terlalu keras dan paculah motor dalam kecepatan sedang, antara 30 km - 50 km per jam. "Semakin pelan, kemungkinan terbenam, besar. Dan pengendara harus yakin dan percaya diri," kata Hendro.
Sepeda motor yang digunakan kondisinya juga harus "fit", mengingat rute yang tidak mudah. Selain itu, sepeda motor harus cepat dicuci air tawar karena pengaruh air laut dapat mempercepat proses korosi.
Ancaman lainnya, di sungai-sungai yang ada di Pantai Paloh, umumnya menjadi habitat buaya muara. Dan sungai itulah yang dilewati rombongan sambil menggotong sepeda motor secara bergantian.
Ada delapan sungai dan lokasi yang bermuara di Pantai Paloh. Yakni Sungai Belacan, Sungai Ubah, Teluk Limau Manis, Sungai Asap, Sungai Kotak Pecah, Sungai Bandang, Sungai Bayuan, dan Sungai Camar Bulan. Sungai yang tetap ada air meski kemarau ada dua, Sungai Bayuan dan Sungai Camar Bulan.
Satu tempat persinggahan di perjalanan yang menjadi favorit bagi pelintas adalah Tanjung Bendera. Sekitar separuh perjalanan dari Sungai Belacan. Di Tanjung Bendera, merupakan satu-satunya lokasi yang terdapat sinyal operator selular di Desa Temajuk. Sinyal yang kuat pun tidak mudah diperoleh, tetapi seolah berkumpul di sebuah pohon kecil.
Mengingat perjalanan rombongan Jurnalis Trip ketika air laut mulai pasang, waktu tempuh menjadi lama. Berangkat mulai 12.30 WIB, tiba di Desa Temajuk saat adzan Magrib. Dua sepeda motor gagal mencapai Temajuk karena rantai putus. Dua sepeda motor bocor ban, satu dan harus ditarik, dua sempat mogok di perjalanan karena mesin terkena air.
Malamnya, air laut surut. Sekitar pukul 21.30 WIB, rombongan harus bersiap kembali ke Sungai Belacan. Perjalanan relatif lancar. Namun ada beberapa sungai yang masih cukup dalam sehingga lagi-lagi rombongan harus menggotong sepeda motor bergantian.
Di perjalanan, satu motor mengalami putus rantai. Satu motor lagi-lagi kehilangan tenaga karena pistonnya mengembang. Sekitar dua jam perjalanan, rombongan tiba di kamp WWF - Indonesia di Sungai Belacan. Istirahat sejenak, rombongan melanjutkan perjalanan ke Desa Sebubus. Namun lagi-lagi ada kendala, ban motor bocor sehingga harus terus dinaiki sampai tiba di Kantor Penyu Paloh WWF - Indonesia yang jaraknya puluhan kilometer. Satu motor harus ditarik motor lainnya.
Saat evaluasi, Sujarwo, staf Penyu Paloh WWF - Indonesia sempat menyinggung mengenai jejak kaki kecil di dekat beberapa muara sungai yang dilewati semalam. Ada yang mengaku melihat. sujarwo mengatakan, itu jejak kaki buaya. "Kalau saya bilang, mungkin tidak ada yang mau menggotong sepeda motor," kata Sujarwo disambut tawa hambar yang lainnya. Membayangkan cangkau-cangkau menggunakan sepeda motor mengangkut beras hingga 160 kilogram pun rasanya sulit.
Awalnya Temajuk
Desa Temajuk relatif baru. Menurut Farhat alias Hatta, pria berusia setengah abad lebih yang menetap sejak 1982, sebelumnya tidak ada nama Temajuk.
Temajuk, kata dia, terkait dengan perencanaan pemerintah untuk menempatkan penduduk di kawasan Tanjung Datuk, Kecamatan Paloh. Perencanaan dimulai sejak tahun 1980. Setahun kemudian, dengan pertimbangan daerah perbatasan, ancaman basis komunis dan terhubung langsung dengan Laut Cina Selatan, penempatan penduduk dimatangkan. Tanjung Bendera menjadi tempat mangkal pasukan.
Hatta mengatakan, pemerintah pusat dengan alternatif untuk pertahanan keamanan serta membendung Kalbar menjadi basis komunis, di daerah tak bernama itu dilakukan pembukaan lahan.
"Mulai tahun 1982," kata Hatta yang kini menjadi Kaur Umum Desa Temajuk. Pusat menyebut daerah itu Ujungberung, seperti nama daerah di Jawa Barat. Detasemen Zeni Tempur IX yang membuka lahan melalui program Tentara Masuk Desa.
Di masa itu, dibangun 12 pintu perumahan untuk tentara yang bekerja. Kemudian, penduduk sekitar mulai menetap. Hatta bersama 14 kepala keluarga lainnya merupakan rombongan ketiga yang memilih menetap di "Ujungberung".
Nama tersebut akhirnya diganti menjadi Temajuk, akronim dari Tempat Mendaratnya Jalur Komunis. Nama itu yang dipakai hingga kini.
Hatta sendiri berasal dari Desa Mentibar, masih di Kecamatan Paloh. Lambat laun kawasan itu terus berkembang hingga kini. Ada 487 kepala keluarga atau sekitar dua ribu jiwa.
Pemkab Sambas kini memprogramkan pembangunan jalan untuk membuka keterisolasian Desa Temajuk. "Target pembangunan jalan akan tembus tahun 2012 dari Liku Ibu Kota Kecamatan Paloh," kata Kasubid Bina Marga, Pengairan, Energi dan Sumberdaya Mineral Bappeda Kabupaten Sambas, Yoelyanto di Sambas, Sabtu (5/3).
"Tahun ini, rencananya dibuat badan jalan dengan lebar delapan meter, panjangnya sekitar 14 kilometer. Tahun depan, dilanjutkan," kata Yoelyanto.
Jalan tersebut nantinya akan diusulkan sebagai jalan strategis nasional sehingga pendanaannya dapat berasal dari berbagai sumber.
Selain itu, juga akan dibuat jalan paralel perbatasan mulai dari Temajuk hingga batas Kalbar - Kaltim.
Sementara Sekretaris Kecamatan Paloh Rohaimi menambahkan, beberapa tahun lalu sudah pernah dibuat badan jalan menuju Temajuk. Namun, lanjut dia, karena lama tidak digunakan maka kondisinya kini ditumbuhi semak belukar.
Sudah sepatutnya ada perhatian lebih untuk warga Temajuk dari pemerintah. Mereka merupakan penjaga terdepan wilayah perbatasan, selain TNI dan kepolisian.
"Jangan hanya janji manis menjelang Pemilu, setelah itu tidak ada tindak lanjut," kata Karta.
Cerita kelam kehabisan kebutuhan pokok pun tak perlu terulang.
(jh/JH/bd-ant)
Ini sekedar foto-foto dari Desa Temajuk

Patok / Tapak batas dengan Malaysia



Karena sulitnya jalur transportasi, satu-satunya jalur yang dilewati untuk dapat sampai ke Desa Temajuk adalah melewati bibir pantai.



Tidak ada komentar :
Posting Komentar